JAKARTA – Indonesia dipastikan bakal memasuki Resesi. Pasalnya ekonomi tumbuh minus selama dua kuartal berturut-turut.

Jika flash back ke era krisis moneter 1998, tersibak masa di mana dunia usaha tanah mengalami krisis. Namun kurun itu, kondisi ekonomi Indonesia dengan fundamental tidak sebaik saat itu.

Dalam buku Oto Biografi Pribadi Ide, Mochtar Riady (Tahun 2016), terungkap di mana Rupiah masuk bebas dari Rp2. 000 bagi USD menjadi Rp18. 000 mulai USD dalam waktu yang sedikit. Berikut ini kisah selengkapnya dengan diungkapkan oleh Mochtar Riady, sang miliarder Indonesia pendiri sekaligus pemiliki Group Lippo.

Baca Juga:   Ekonomi Kawasan Ini Alami Minus Lebih Luhur dari Nasional

Di Indonesia, nilai tukar gegabah uang Rupiah terhadap dollar AS semula 1 berbanding 2. 000. Hanya dalam waktu 40 hari, sudah mengalami devaluasi menjadi 1 berbanding 18. 000.

Ketika itu, suasana ekonomi berantakan, masyarakat galau, banyak yang berebut membeli mata uang asing sehingga dana cadangan di semua bank terkuras habis, termasuk cadangan dollar AS di Bank Indonesia. Kembang bank overnight melambung tinggi tenggat 70 persen. Itu pun pelik didapat. Harga bahan pokok menyusun tinggi, kegiatan pasar modal & stock market lumpuh total. Adikara pemerintah mulai goyah.

Bayangkan, hanya dengan senjata berita gosip dan fitnah sudah mampu menghancurkan ekonomi sebuah negara. Kala itu, suasana di Indonesia sudah tidak terkendali. Banyak yang memboyong keluarga mengungsi ke Singapura.

Dalam kondisi tidak berdaya, Indonesia terpaksa menerima “bantuan” IMF dan Bank Dunia. Selanjutnya, ekonomi Indonesia sepenuhnya dikendalikan oleh kedua badan keuangan dunia tersebut, dengan pada hakikatnya adalah kaki tangan investor keuangan Wall Street Amerika Serikat, sehingga menyebabkan lengsernya pemerintahan Presiden Soeharto. Sebab, Amerika Serikat tidak menginginkan seorang presiden despot yang berlatar belakang militer.

Baca Juga:   Mengenal Resesi? Begini Penjelasan Kepala BKF

Begitu kesepakatan ‘bantuan IMF dan Bank Dunia’ diumumkan, gosip lenyap, umum tenang, rush hilang, nilai sembrono uang rupiah meninggi, dan harga barang mulai stabil. Tak mampu dibayangkan, hanya dengan sehelai “surat kesepakatan” saja sudah mampu menimbulkan keyakinan masyarakat. Keyakinan ini menumbuhkan kepercayaan terhadap bank. Kepercayaan merupakan segala-galanya bagi bisnis perbankan.

Selama 40 hari gempuran krisis ekonomi Indonesia yang berulang-ulang menyebabkan runtuhnya BCA, BII, Bank Danamon, BDNI, dan Bank Bali. Di antara delapan besar bank swasta Indonesia, lima bank sudah diambil alih Bank Indonesia. Dengan masih bertahan adalah LippoBank, PaninBank, dan Bank Bali.

LippoBank adalah satu-satunya bank dengan tidak mengambil bantuan BLBI anugerah pengalaman pahit serangan rush pada tahun 1995 dan kebijakan “Perampingan LippoBank” untuk meningkatkan daya awet dan mengantisipasi serangan yang tidak terduga.