JAKARTA – Pemberian Sandaran Langsung Tunai (BLT) kepada pelaku dengan upah di bawah Rp5 juta dinilai masih belum bisa mendongkrak perekonomian Indonesia. Pasalnya, provokasi itu hanya pekerja formal dengan terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Ekonom sejak Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menyebut sektor pekerja informal dalam Indonesia yang tidak terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan itu jumlahnya masih lebih banyak ketimbang dengan tercatat. Sehingga, bantuan itu sanggup dipastikan tak menyasar ke segenap lapisan pekerja.

  Baca juga: 4 Tanda BLT Subsidi Gaji Ditransfer ke Rekening Bank Swasta

“Target penerima bantuan ialah pekerja formal yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan. Sementara pegawai rileks yang porsinya 57% belum iba BPJS bahkan sebelum pandemi, ” kata Bhima saat dihubungi Okezone , Jakarta, Senin (7/9/2020).

Menurut nya, seharusnya bantuan itu lebih indah diberikan kepada para pekerja dengan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). “Kemudian untuk korban PHK harusnya juga diprioritaskan karena daya belinya paling terdampak, ” ujarnya.

  Baca juga: SMS dari BPJS Ketenagakerjaan Soal BLT Pekerja Bukan Hoax

Dia menilai, bila pemberian stimulus itu salah bahan, maka uang yang ditransfer ke penerima BLT pun tak akan digunakan untuk berbelanja. Mereka akan memilih uang itu untuk disimpan di bank karena melihat kondisi perekonomian yang masih belum stabil.